Kelebihan bank syariah yang tidak dimiliki bank konvensional

Perkembangan perbankan syariah berasal dari waktu ke waktu konsisten mengalami peningkatan. Hal ini mampu diamati berasal dari market sharing perbankan syariah yang udah berhasil terlihat berasal dari five percent traps. Meski pangsa pasarnya udah tembus 5%, perbankan syariah tetap konsisten mengusahakan meningkatkan pangsa lagi di jaman depan. Harapannya, akan makin lama banyak penduduk yang terbantu dengan ada perbankan syariah.

Ketua V Ikatan Ahli Ekonomi Islam (IAEI) Agustianto Mingka menjelaskan, keliru satu upaya untuk meningkatkan market sharing bank syariah adalah dengan melaksanakan sosialisasi product dan layanan kepada masyarakat. Pasalnya, tingkat literasi keuangan syariah nasional baru mencapai 8% jikalau merujuk survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Menurutnya, bank syariah punya kelebihan dan keistimewaan ketimbang bank umum. Hampir seluruh transaksi yang dijalankan di instansi keuangan mampu kenakan akad syariah. “Asalkan, mampu menyingkirkan unsur riba atau bunganya yang dalam ajaran Islam adalah haram,” katanya terhadap workshop perbankan syariah dengan tema “Meneropong Celah Bisnis Melalui Akad- Akad di Perbankan Syariah

Ia memberi contoh, dalam proses perbankan konvensional tidak tersedia transaksi gadai sebab hal itu merupakan domain jasa pegadaian. Tapi itu tidak berlaku terhadap bank syariah. “Pada bank syariah tersedia yang namanya rahn yaitu akad yang digunakan dalam proses gadai barang,” terangnya.

Agustianto termasuk menjelaskan akad sewa yang jadi keistimewaan bank syariah lainnya, yaitu ijarah sebab tidak tersedia dalam product bank konvensional. Ijarah adalah akad pemindahan hak guna (manfaat) atas suatu aset dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan aset itu sendiri. Dalam praktiknya, dalam sewa-menyewa ini berkembang akan yang disebut ijarah al-maushufah fi al-dzimmah atau sewa inden.

Kini, banyak perusahaan swasta dan BUMN yang gunakan akad sewa inden ini sebab tidak dicatat sebagai utang, supaya positif terhadap kinerja keuangan perusahaan. “Dengan akad sewa inden atau ijarah al-maushufah fi al-dzimmah, bank syariah mampu menyewakan barang yang belum jadi atau tetap dibuat oleh vendor,” sebut Agustianto.

Akad akad lainnya yang mampu dijalankan dalam bisnis syariah pada lain istishna yang digunakan dalam transaksi menjual beli dengan ada pemesanan barang dan pembayaran dijalankan dengan langkah dicicil atau bertahap. Kemudian, kafalah yaitu akad yang digunakan dengan ada pemberian jaminan dalam suatu transaksi. Selain itu, akad murabahah yaitu akad ini termasuk diguankan untuk transaksi menjual beli. Juga tersedia qardh yaitu akad yang digunakan untuk peminjaman di mana pengembalian dana yang dipinjam besarnya selalu serupa atau tidak bertambah.

Pada kesempatan yang sama, Pemimpin Divisi Keuangan BNI Syariah Wahyu Avianto mengatakan, pihaknya siap meluncurkan product piutang yang bertujuan untuk pengalihan (takeover) pinjaman nasabah berasal dari bank lain yang akan difasilitasi gunakan akad hawalah. Hawalah merupakan suatu akad pemindahkan pinjaman berasal dari tanggungan ‘muhil’ atau orang yang berutang jadi tanggungan muhal’alaih atau orang yang melaksanakan pembayaran utang. Sehingga, dalam hawalah berikut berlangsung pemindahan tanggungan atau hak berasal dari satu orang kepada orang lain.

“Produk piutang hawalah ini untuk ‘takeover’. Misalnya nasabah sebelumnya punya kredit di bank konvensional dan inginkan pindah ke bank syariah, mampu gunakan akad ini. Ini mampu ‘takeover’ apa saja,” bebernya.

Wahyu menuturkan, potensi pembiayaan hawalah lumayan besar sebab minat penduduk yang inginkan pindah ke bank syariah sangat banyak. Oleh sebab itu, product piutang hawalah berikut diharapkan mampu jadi solusi. “Di BNI Syariah, berasal dari Rp12 triliun, Rp10 triliun atau 80% konsumer kami ada di griya, potensinya termasuk sangat besar. Masyarakat yang inginkan hijrah termasuk sangat banyak, yang inginkan ‘takeover’ dan sebagainya supaya harus siapkan solusi dengan akad itu,” ujarnya.

Namun dalam pencatatan piutang hawalah ini, belum mampu dimunculkan sebab terbentur regulasi berasal dari OJK. Wahyu mengatakan, pihaknya udah mengusulkan ke OJK untuk membangkitkan piutang hawalah dalam pencatatan. “Sudah dajukan ke OJK dan udah dalam proses pembahasan. Mudah-mudahan dalam waktu dekat disetujui dan mampu segera launching terhadap semester satu ini,” harapnya.

Wahyu termasuk menjelaskan market sharing atau pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia udah mencapai 5,74% sampai akhir th. 2017 lalu. “Perbankan syariah mengalami perkembangan lumayan tinggi, yaitu 15,2% atau jauh lebih tinggi berasal dari perkembangan perbankan konvensional secara nasional yang mencapai 8,4%,” katanya.

Khusus untuk BNI Syariah, market sharenya mencapai 8,21% atau lebih tinggi berasal dari market sharing bank syariah secara nasional. Aset BNI Syariah mencapai Rp 35 triliun dibandingkan aset perbankan syariah secara nasional Rp 240 triliun, dan juga aset perbankan konvensional secara nasional yang mencapai Rp 7.387 triliun. “Salah satu upaya perbankan syariah untuk meningkatkan market sharing adalah dengan melaksanakan sosialisasi product dan layanannya ke penduduk mengingat tingkat literasi keuangan tetap minim,” terang Wahyu.