Hukum Apabila Seseorang Telat Bayar Zakat Fitrah

Zakat fitrah merupakan harta yang wajib dikeluarkan oleh umat muslim sampai batas sementara sebelum akan Salat Hari Raya Idul Fitri dilaksanakan. Namun, bagaimana terkecuali seseorang telat membayarkan zakat fitrah tersebut?

puasa yang dijalani sepanjang Bulan Ramadan dapat tidak cukup prima apabila tidak ditutup bersama dengan membayarkan zakat fitrah.

Seseorang yang tidak membayar zakat fitrah sampai akhir batas sementara tanpa alasan tahu hukumnya haram.

“Siapa saja yang menunda pembayaran zakat fitrah sampai hari Id selesai, maka ia berdosa dan wajib menunaikannya langsung apabila ia menundanya tanpa uzur.

Lain halnya bersama dengan Imam Zarkasyi yang berpandangan mirip Al-Adzrai di mana keduanya mewajibkan qadha zakat fitrah langsung secara mutlak (karena uzur atau tanpa uzur) bersama dengan melihat terhadap kaitan zakat fitrah dan hak adami,” (Lihat Muhammad Ar-Ramli, Nihayatul Muhtaj, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyah, cetakan ketiga, 2003 M/1424 H, juz III, halaman 111-112).

Dari penjelasan tersebut, sanggup ditarik pemikiran bahwa menunaikan kewajiban membayar zakat fitrah diinginkan langsung sanggup dibayarkan.

Zakat fitrah bermanfaat untuk mensucikan harta kita dan bentuk sharing terhadap sesama manusia di hari raya.

Kewajiban membayar zakat fitrah boleh ditunaikan sejak awal Bulan Ramadan.

Sehingga, apabila seseorang sibuk menjelang akhir Bulan Ramadan, sanggup membayarkan zakat fitrah lebih awal untuk menjauhi telat membayarkan zakat.

Adapun zakat fitrah yang diberikan berbentuk 3,5 liter beras. Cara penghitungan zakat fitrah yang wajib diberikan per orang yakni 3,5 liter dikalikan harga beras di pasaran per liter.

Sebagai contoh, harga beras umumnya Rp 10 ribu per liter di pasaran, maka besaran zakat fitrah yang wajib dibayarkan per orang adalah sebesar RP 35 ribu.