Cara Mengatasi Kebuntuan Dalam Menulis

Salah satu gangguan utama seorang penulis adalah situasi writer’s block, yaitu pas di mana seorang penulis mengalami kebuntuan. pas di mana penulis tidak mempunyai gagasan untuk ditulis, atau memiliknya, tetapi tidak mempunyai sumber kekuatan yang memadai untuk menuliskannya.

Seorang blogger asal Amerika yang juga udah menulis sebuah percetakan buku berjudul the Art of Work, bernama Jeff Goins dulu menambahkan satu tips kepada siapapun yang mengalami writer’s block ini. Tips tersebut adalah: menulis.

Bagi Jeff, writer’s block bukanlah penghalang untuk seorang penulis untuk selalu menulis. Menurut dia justru di waktu-waktu seperti itu lah seorang penulis ditantang untuk mesti sanggup memecahkan kebekuan tersebut.

Lantas apa yang mesti ditulis disaat seorang penulis tidak tahu ulang apa yang mesti dia tulis? Tulislah situasi itu. Tulislah bahwa anda tidak tahu apa yang mesti anda tulis. Bertanya-tanyalah dan tuliskan pertanyaan-pertanyaan itu tersebut kemungkinan-kemungkinan jawabannya.

 

Banyak perihal yang sanggup menjadi aspek writer’s block. Faktor yang paling lazim adalah hilangnya fokus dapat suatu topik terhadap pikiran penulis. Ketiadaan fokus ini dapat memicu penulis susah menyusun argumentasi maupun membangun narasi dari gagasan yang dia miliki.

Biasanya seorang penulis kehilangan fokus sanggup disebabkan oleh sesuatu yang mampir dari luar dirinya maupun sesuatu yang mampir dari di dalam dirinya. Sesuatu dari luar itu misalkan situasi kerja yang tidak kondusif, lingkungan yang tidak menambahkan ruang yang memadai bagi kreativitas, sampai masalah-masalah sosial yang berlangsung pada sang penulis dan orang-orang di sekitarnya.

 

Adapun sesuatu yang mampir dari di dalam maka ia sanggup berwujud kekuatan imajinasi yang melemah, atau perasaan-perasaan (semisal sedih, marah, dan pasti saja juga, cinta) yang menggelegak secara berlebih-lebihan, ataupun sanggup juga mampir dari situasi kebugaran fisik maupun psikis penulis.

Apapun itu, faktor-faktor penyebab writer’s block sejatinya tidak semuanya nyata-nyata mem-block seorang penulis. Sebab situasi tersebut cuman tekanan mental semata. Seorang penulis selalu masih sanggup menulis dikarenakan dia, kendati di dalam situasi itu, masih mempunyai alat untuk menulis.

 

Dia masih mempunyai tangannya, pena dan pulpennya, laptopnya, sampai ponselnya yang kesemuanya sanggup dia pergunakan untuk menulis. Maka wejangan Jeff Goins tadi sungguh tepat. Menulis saja kendati anda tidak tahu apa yang ingin anda tulis. Minimal tulislah tentang ketidak tahuanmu dapat apa yang mesti anda tulis itu.

Kewajiban seorang penulis untuk terus-menerus menulis tiap tiap hari merupakan perihal yang paling esensial di dalam sifat kepenulisannya. Tanpa keteguhan yang mumpuni dan ketekunan yang tahu di dalam perihal itu seseorang pasti saja tidak mesti repot-repot menyebut dirinya sendiri seorang penulis.

 

Tugas seorang penulis hanya satu; menulis. Baik atau buruk, dia selalu mesti menulis. Ketika di dalam situasi yang baik dia menulis bersama dengan baik dan hal-hal yang baik-baik. Ketika di dalam situasi buruk juga dia selalu menulis. Dia menulis tentang betapa buruknya keburukan itu.

Tidak sedikit kami memandang penulis-penulis besar yang justru melahirkan tulisan-tulisan besar di dalam situasi yang buruk. Kondisi yang buruk itu serupa sekali bukanlah penghalang bagi mereka. Mereka justru menjadikannya bahan bakar bagi stimulus untuk menulis.

 

Seringkali sebenarnya merawat ketekunan di dalam menulis itu lebih penting daripada isi tulisannya. Kita dapat selalu sanggup memperbaiki tulisan yang jelek, tetapi kami tidak dapat dulu sanggup memperbaiki tulisan yang tidak ada.